NIKMATNYA MENJADI KORUPTOR….

29 09 2010

Menjadi Koruptor di Bumi Pertiwi ini memang sungguh luar biasa nikmatnya. Lihat saja, setelah merampok uang rakyat puluhan hingga ratusana miliar, Para Koruptor paling hanya mendapat hukuman bebarapa tahun penjara plus denda yang ibarat “RECEHAN” dibanding uang haram yang mereka “RAMPOK”. Setelah mendapatkan putusan di Pengadilan, mereka masih bisa banding hingga kasasi. Kalaupun akhirnya masuk penjara, hanya dengan bermodalkan kepingan rupiah hasil Korupsi, mereka dapat membagikannya bagi petugas di penjara, dengan konsekuensi mereka bebas memilih mau tinggal di kamar dengan berbagai fasilitas hingga setingkat hotel bintang lima di hotel prodeo.

Ternyata cerita itu belum berakhir. Sebab hanya dengan bermodalkan “TOPENG” sebagai seorang yang menjadi panutan di Penjara, para KORUPTOR itu masih berhak mendapatkan hadiah berupa potongan masa hukuman pada waktu Lebaran, 17 agustusan, natal, dll. Belum lagi pengampunan yang diberikan Presiden dengan GRASI yang diberikan. Wow, sungguh nikmat bukan. Sehingga menurut saya Bait lagu dari sabang sampi merauke tidak lagi berjajar pulalu-pulau namun diganti dengan berjajar koruptor-koruptor.
Bagaimana tidak, indeks pertumbuhan para koruptor di negeri ini mengalami peningkatan luar biasa. Indonesia mendapat ranking pertama sebagai NEGARA TERKORUP di asia pasifik. Tentu itu bukanlah sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Pemberian GRASI oleh presiden harus ditinjau ulang lagi. Sebab filosofi awal penyusunan UU Grasi tersebut adalah, grasi diberikan untuk alasan kemanusiaan bagi narapidana anak dan orang jompo. Namun faktanya, dalam pelaksanaannya, UU ini malah dipakai untuk membebaskan koruptor. Padahal, ulah para koruptor sama saja dengan melanggar aspek-aspek kemanusiaan rakyat yang menjadi korban.

Oleh sebab itu menurut saya Pemberian GRASI terhadap para koruptor, HARAM HUKUM nya. Bila perlu usul agar TERPIDANA KORUPTOR yang meninggal dunia agar tidak dishalatkan tampaknya perlu dipertimbangkan kembali. Semua ini hanya sebagai efek jera bagi semua pejabat maupun siapapun itu. Sehinga apabila berniat korupsi, mereka berpikir puluhan atau bahkan ratusan kali. Agar Seluruh gambaran diatas tidak menjadikan pemberantasan korupsi yang berulang kali didengungkan para pejabat hanya menjadi sekadar retorika usang yang tak bermakna.

Best Regards

Chandra Silaen
110110070551


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: