Gaji Besar, Kerja Nol Besar…!!!

1 09 2010

Saat ini siapa yang tidak ingin menjadi anggota DPR. Dari pakaian hingga semua yang melekat di badan serta kendaraan, semuanya menyiratkan tanda-tanda kemewahan. Apalagi melihat ruangan kerja yang sangat mewah hingga tempat duduk yang sangat nyaman, hingga mengundang mata ini untuk terpejam dan terlelap hingga tertidur pulas. Saya tidak habis pikir, dengan pemikiran anggota “DEWAN TERHORMAT” saat ini. Ketika rakyat menjerit akibat kenaikan TDL, anggota DPR malah mengajukan Permintaan yang sangat-sangat “FANTASTIS” dengan alasan untuk “PENINGKATAN KINERJA” mereka. Dlam tahun ini saja ada 3 permintaan “KONYOL” mereka.

“PERTAMA” meminta dana untuk program Rumah Aspirasi di 77 daerah pemilihan. Untuk kegiatan ini saja, DPR meminta pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp 78,9 MILIAR. Dari jumlah ini satu dapil akan kebagian sebesar Rp 1,02 miliar setiap tahun.

“KEDUA” penambahaan Tenaga Ahli (TA) untuk setiap anggota DPR. Dengan demikian, bila ini disetujui maka setiap anggota DPR akan memiliki dua TA. Namun Persoalannya adalah selama ini mayoritas TA yang telah ada sebelumnya lebih sering diperlakukan seperti office boyyang membawakan tas, sepatu, atau disuruh membeli makanan. Bukan untuk membantu anggota Dewan menyelesaikan kewajiban konsttitusional mereka.

“KETIGA” biaya pertanggungan asuransi anggota Dewan. Sebelumnya biaya pertanggungan asuransi yang sudah dianggarkan untuk tahun 2010 ini sebesar Rp 27,2 MILIAR untuk seluruh anggota DPR. Tetapi di dalam draf RAPBN-P 2010 ada penambahan sebesar Rp 10 MILIAR. Ini artinya total dana yang dianggarkan untuk pos ini tahun 2010 sebesar RP 37,2 MILIAR. Namun, permintaan itu semua itu berbalik dengan seluruh kinerja mereka. Ketika media ramai menyorot kenerja mereka selama ini,salah satunya mengenai tingkat kehadiran mereka menghadiri rapat, semua anggota DPR seperti kebakaran jenggot. Absensi yang biasa kosong melompong, seketika itu penuh. Memang masalah absesnsi bukanlah barang baru di negeri ini. Bahkan Pimpinan DPR merasa kehabisan akal mengatasi kemalasan anggota DPR kita. Memang hampir dalam setiap periode selalu muncul perdebatan soal anggota DPR yang malas, terutama yang sering membolos. Kadang datang, tanda tangan, pulang dapat uang. Namun, saat ini, praktik kemalasan anggota DPR datang terlalu cepat. Belum setahun DPR periode 2009-2014, sikap mereka sudah disoroti oleh media.

Tingkat kehadiran “ANGGOTA DEWAN TERHORMAT” saat ini memang “LUAR BIASA”. rata-rata hanya mencapai 200-an orang dari seluruh anggota yang 560 orang. Dari 200-an orang itu pun banyak yang hanya di atas kertas saja alias titip tandatangan Ironis memang melihat fakta tersebut. Anggota DPR yang menyandang status ”TERHORMAT” ternyata rajin membolos. Kita memahami kegerahan sebagian anggota DPR terhadap rekannya yang malas. Predikat ”DPR pemalas” pasti akan mengena pada anggota DPR yang betul-betul mencoba menjalankan fungsinya sebagai anggota DPR yang benar.

Untuk meredam angka bolos yang tinggi, Dewan Perwakilan Rakyat berencana melakukan pemotongan gaji, pembedaan nilai remunerasi antara anggota DPR yang rajin dengan yang malas, sehingga anggota DPRyang tidak pernah hadir rapat hanya menerima uang kehormatan, sedangkan yang rajin mengikuti rapat akan mendapatkan uang kehormatan dan uang kehadiran, hingga dengan menggunakan sistem presensi sidik jari. Akan tetapi menurut saya namanya orang malas, PASTI orang yang sangat-sangat “KREATIF”. Bisa saja setelah absensi dengan finger print, mereka lantas akan tetap saja meninggalkan ruang sidang, atau tidak menghadiri sidang. Nanti menjelang berakhirnya sidang baru kembali hanya untuk melakukan absensi sidik jari lagi ketika pulang. Namun belum juga rencana tersebut direalisasikan, rencana pemakaian finger print tersebut sudah mendapat banyak penolakan. Dan menurut saya rencana ini sepertinya tak akan berjalan mulus. Sejumlah anggota dewan menolak dengan alasan, “POLITISI BUKANLAH PEGAWAI KANTORAN” yang tingkat produktivitasnya hanya diukur berdasarkan presensi semata.

Menurut pendapat saya, upaya apapun yang akan dilakukan, semua akan kembali seperti yang sudah berjalan selama ini, si PEMALAS akan tetap menguasai DPR. Karena saat ini belum ada elemen yang mampu mengatasinya, termasuk apa yang disebut “BADAN KEHORMATAN DPR” yang tak punya wibawa dengan sederet kode etik lembek yang hanya seperti macan tua ompong saja. Karena BK bereaksi setelah kecaman bertubi-tubi dari masyarakat, maka nanti seiring dengan turunnya frekwensi kecaman, BK pun akan surut kembali. Mungkin kita butuh seorang “PONG HARJATMO” yang rela menaiki gedung DPR dan mencoret-coretnya untuk “MENAMPAR” seluruh “ANGGOTA DEWAN YANG TERHORMAT”.

Tentunya negeri ini masih banyak orang-orang yang dibutuhkan rakyat yang memiliki dedikasi dan integritas tinggi dalam menjalani jabatannya sebagai anggota DPR. Kesalahan kita memilih anggota DPR periode sekarang, semoga tidak terulang lagi dalam pemilihan berikutnya.

“JANGAN MEMILIH ORANG KARENA POPULARITASNYA, NAMUN KARENA KAPASITAS DAN INTEGRITASNYA”


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: