Ujung Kasus Bibit-Chandra

9 07 2010

Masih ingat dengan kasus 2 pimpinan KPK yaitu Bibit-Chandra? Dalam Koran Kompas yang terbit pada tanggal 30 0ktober 2009, Kapolri menjelaskan kasus bermula saat Antasari membuat testimoni tentang penerimaan uang sebesar Rp 6,7 miliar oleh sejumlah pimpinan KPK pada 16 mei 2009. Saat itu Antasari sedang ditahan atas kasus dugaan pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen.

Karena testimoni tidak ditindaklanjuti polisi, Antasari lalu membuat laporan resmi pada 6 Juli 2009 mengenai dugaan suap itu di Polda Metro Jaya. Laporan itu kemudian dilimpahkan ke Mabes Polri, lalu dilanjutkan ke penyelidikan dan penyidikan.

Dalam proses lidik dan sidik, kata Kapolri, pada 7 Agustus 2009 diperoleh fakta adanya tindak pidana penyalahgunaan wewenang oleh dua tersangka yang melanggar Pasal 21 Ayat 5 UU No 30 Tahun 2002 tentang KPK.

Saat penyidikan, ditemukan keputusan pencekalan dan pencabutan pencekalan yang dilakukan oleh kedua tersangka tidak secara kolektif. Pencekalan terhadap Anggoro Widjojo dilakukan oleh Chandra Hamzah, pencekalan terhadap Joko Tjandra oleh Bibit S Riyanto, serta pencabutan pencekalan terhadap Joko Tjandra oleh Chandra Hamzah.

Kemudian, dari hasil penyidikan kasus pencekalan terhadap Anggoro ditemukan adanya aliran dana. Temuan itu kemudian dituangkan dalam laporan polisi pada 25 Agustus 2009.
Dalam kasus dugaan pemerasan, penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi dan alat bukti lain. Sedangkan sangkaan penyalahgunaan wewenang, penyidik telah memeriksa sebanyak 22 saksi serta saksi ahli dan ditemukan beberapa dokumen. Pasal yang disangkakan adalah Pasal 23 UU No 31 Tahun 1999 Jo Pasal 421.

Dari alat bukti, keterangan saksi, dan saksi ahli didapat empat alat bukti. Lalu pada tanggal 15 September 2009 pukul 23.20, dua pimpinan KPK nonaktif itu ditingkatkan statusnya dari saksi menjadi tersangka. Pada 2 Oktober 2009, berkas perkara Chandra Hamzah dikirimkan ke Kejaksaan dan berkas Bibit S Riyanto dikirimkan pada 9 Oktober.

Kemudian, penyidik melakukan penahanan pada 29 Oktober 2009 karena kedua tersangka melakukan tindakan mempersulit jalannya pemeriksaan dengan menggiring opini publik melalui pernyataan-pernyataan di media serta forum diskusi.

Penangkapan dan penahanan 2 pimpinan KPK tersebut menjadi polemik dalam masyarakat. Namun berkat banyaknya dukungan dan simpati yang diperoleh oleh masyarakat, akhirnya Tim 8 yang merupakan tim yang dibentuk oleh Presiden SBY saat itu mengeluarkan beberapa rekomendasi, yang pada intinya adalah agar menghentikan kasus ini sebab tidak ada yang janggal yang terjadi. Sebab tidak mungkin setiap keputusan tersebut diambil oleh 5 pimpinan KPK. Karena mungkin saja dibutuhkan sebuah keputusan yang diambil serta merta, oleh karena ketika itu terdapat beberapa pimpinan KPK yang sedang bertugad didaerah lain atau bahkan di luar negeri. Hal inilah yang menyebabkan 5 pimpinan KPK terdahulu sebelumnya mendatangi MABES POLRTI untuk juga di tetapkan sebagai TERSANGKA, karena apa yang dilakukan oleh Bibit-Chandra juga dilakukan oleh mereka ketika menjadi pimpinan KPK.

Akibat tekanan publik yang semakin deras, disertai pidato Presiden ketika itu untuk menghentikan kasus tersebut dan menyelesaikannya diluar pengadilan, akhirnya Kejaksaan Agung Republik Indonesia mengeluarkan kebijakan dengan mengeluarkan SKPP (Surat Ketetapan Penghentian Perkara)
SKPP yang menjadi keputusan akhir dari kejaksaan. Akhirnya oleh Anggodo Widjojo, yang diduga melakukan rekayasa kasus ketika rekaman yang dibuka di Mahkamah Konstitusi, melakukan perlawanan dengan mempraperadilkan keputusan tersebut ke Pengadilan Jakarta Selatan. Bahkan tidak hanya Anggodo, beberapa pengacara senior seperti OC Kaligis mengajukan praperadilan terhadap penerbitan SKPP Bibit Chandra. Koordinator advokat Eggi Sudjana pun melakukan hal serupa.

Bedanya, jika Kaligis mewakili dan memimpin 48 pengacara namun Eggi mewakili tiga lembaga swadaya masyarakat yaitu Kesatuan Pekerja Muslim Indonesia, LSM Hajar, dan Laskar Empat Merah Putih (Lepas). Penghentian penuntutan, menurut Eggi bertentangan dengan Pasal 139 KUHAP yang menegaskan bahwa penuntut umum menerima kembali hasil penyelidikan yang lengkap dan penyidik segera menentukan untuk dilimpahkan ke pengadilan, bukan malah termohon (Kejari, Kejagung, Kejati DKI Jakarta) menentukan penghentian penuntutan tanpa ada kejelasan dan kepastian hukum.

Selain itu, menurut Eggi, Pasal 140 Ayat (2) butir a KUHAP ditegaskan dalam hal ini penuntut umum memutuskan untuk menghentikan penuntutan karena tidak cukup bukti, atau peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindakan pidana atau perkara ditutup demi hukum.

Dalam sidang paperadilan di PN Jakarta Selatan yang dipimpin oleh Nugroho Setiadji, akhirnya mengabulkan permohonan praperadilan yang diajukan Anggodo Widjojo, tersangka kasus percobaan penyuapan dan menghalangi-halangani penyidikan KPK. Perkara yang disebut terakhir dalam waktu dekat dilimpahkan ke pengadilan. Putusan Nugroho membuat kubu Anggodo bersorak ria. Bonaran Situmeang, pengacaranya, memandang putusan Nugroho sebagai kemenangan hukum di Indonesia.

Dengan putusan itu berarti Kejaksaan diperintahkan hakim melanjutkan berkas perkara dua pimpinan KPK, Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah ke pengadilan. Meskipun berkas perkara sudah lengkap (P-21), Kejaksaan mengeluarkan beleid penghentian penuntutan (SKPP). Beleid itu sesuai pula dengan rekomendasi Tim Independen beranggotakan delapan orang (biasa disebut Tim 8) bentukan Presiden SBY.

Terhadap putusan tersebut, Kejaksaan akhirnya mengambil langkah melakukan Peninjauan Kembali terhadap putusan tersebut. Namun banyak pakar hukum menganggap Peninjauan Kembali yang dilakukan oleh kejaksaan justru sangat lemah dan dapat ditebak apa hasil akhirnya. Dan hal inilah ibarat drama yang akan selalu dinanti masyarakat Indonesia akan ujung kisah ini.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: