Siapa Bilang Indonesia Negara Miskin??

23 01 2010

Ga terasa, Indonesia uda 65 tahun merdeka. Tapi masih saja dibilang Negara berkembang (istilah halusnya). Sebab Negara berkembang identik dengan Negara miskin. Pernyataan ini, memang bertentangan atau tidak berkoerelasi dengan judul yang diambil. Tentunya Penulis memiliki alasan, mengapa justru judul yang demikian yang menjadi pilihan. Mari kita telusuri satu persatu.

1. Banyaknya Jumlah Komisi maupun Lembaga Negara.

Saat ini di Indonesia terdapat 36 kementerian dan 22 lembaga pemerintah non departemen, semua itu dibiayai oleh Negara. Padahal Negara maju semacam China cuma ada 20 sampai 24 lembaga Negara (Versi Baharudin Aritonang, anggota BPK). Banyak di Negara ini memiliki Departemen yang fungsinya tumpang tindih dengan departemen yang telah ada sebelumnya. Sebagai contoh, Dirjen Farmasi kemudian lahir Badan POM tapi di Depkes ada lagi Dirjen Pelayanan Farmasi, itu jadi tumpang tindih sehingga perlu ada perampingan. Tentunya lahirnya sebuah departemen, komisi-komisi, maupun Lembaga Negara merupakan suatu bentuk pemborosan terhadap keuangan Negara. sebab, apabila dibuat sebuah departemen, maka harus diangkat pejabat-pejabat departemen, belum lagi pengadaan fasilitas bagi para pejabat, pengadaan perkantoran dll.

Padahal belum tentu Pembentukan Departemen, Komisi-Komisi, atau pun Lembaga Negara itu baik. Justru menurut Penulis hal ini akan membentuk suatu conflict of interest yang menimbulkan permasalahan. Kita ambil Contoh dengan di bentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun 2003 untuk mengatasi, menanggulangi dan memberantas korupsi di Indonesia. Komisi ini didirikan berdasarkan kepada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 mengenai Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Tentunya kita masih mengingat beberapa saat lalu, konflik antara KPK dan Kepolisian (Cicak VS Buaya) dimana isu saat itu bahwa hal ini merupakan upaya melemahkan KPK dengan cara mengkriminalisasikan petinggi KPK. Belum lagi Kejaksaan yang merasa iri hati melihat jomblangnya pendapatan yang diterima Jaksa KPK dengan Jaksa dari Kejaksaan Agung. Padahal Beban mereka sama, yaitu melakukan penuntutan di pengadilan. Sehingga banyak bermunculan jaksa-jaksa Nakal, seperti Urip Tri Gunawan (UTG). Adanya beberapa macam permasalahan seperti itu, menurut penulis dikarenakan Fungsi diantara ke 3 instansi tersebut hampir sama, walaupun KPK hanya khusus menangani Tindak Pidana Korupsi yang dengan angka nominal tertentu.

2. Fasilitas Super Mewah anggota MPR

Penulis lebih menspesifikkan fasilitas dalam hal ini yaitu pengadaan Komputer bagi anggota Dewan yang akhir-akhir ini menimbulkan polemik di masyarakat. Hal ini dikarenakan Pengadaan komputer bagi anggota DPR periode 2009-2014 seharga Rp15 juta. Hal itu lantaran, harga komputer tersebut dianngap terlalu mahal untuk spesifikasi computer yang paling terbaru. Padahal menurut Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW), Adnan Topan Husodo, untuk teknologi terbaru, dengan harga Rp6 – 7 juta sudah sangat bagus. total komputer yang diadakan Sekretariat Jenderal DPR tersebut berjumlah 687 unit dengan anggaran sebesar Rp 11,03 miliar. Dana itu merupakan anggaran definitif Setjen tahun 2009 (detik.com tgl 22 Januari 2010) .Seharusnya sebagai anggota dewan yang merupakan wakil rakyat, anggota dewan terhormat di senayan tersebut dapat lebih sensitif dengan kondisi perekonomian masyarakat daripada hanya mengutamakan kepentingan pribadinya.

Menurut Peneliti Hukum dan Politik Anggaran Indonesia Budget Center (IBC), Roy Salam dalam keterangannya kepada detik.com, kerja-kerja di ruangan anggota DPR tidak memerlukan komputer dengan teknologi canggih. Seorang sekretaris anggota Dewan hanya memakai komputer untuk mengetik, membuat jadwal, membuat presentasi, dan mencari materi melalui internet.

Tentunya kita juga mengingat bagaimana DPR periode sebelumnya, yang menurut penulis saat itu tidak mau kalah dengan Tukul Arwana dalam Program acara empat mata, telah menghamburkan miliaran rupiah untuk pengadaan Laptop. Laptop tersebut merupakan aset negara, tidak menjadi milik pribadi anggota DPR setelah ia tidak terpilih lagi. Lalu buat apa Komputer itu lagi? Bukankah Fungsi yang terdapat pada komputer juga terdapat pada Laptop. atau jangan-jangan Pembelian Komputer super canggih dengan harga selangit itu dipergunakan anggota Dewan untuk maen Game di Kantornya??? entahlah…

3. Pemilihan Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, hingga Caleg secara langsung oleh rakyat.

Pemilihan secara langsung oleh rakyat untuk memilih pemimpinnya memang merupakan suatu proses Demokrasi. Namun Pemilihan semacam itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Penulis bukannya tidak setuju dengan pemilihan dengan cara tersebut, tapi apa perlu untuk pemilihan seorang anggota Caleg hingga Bupati / Walikota diperlukan pemilihan seperti itu. Apalagi budaya masyarakat kita yang sulit untuk menerima suatu kekalahan. Banyak Konflik yang terjadi di daerah terkait hal ini. Contohnya Pemilihan Gubernur Jawa Timur yang hampir menimbulkan konflik horisontal diantara pendukung ke 2 calon yang bersaing mendapatkan posisi Jatim 1 & 2. Pemilihan ulang hingga 3 putaran seperti itu hanya menghamburkan uang rakyat dan menguras tenaga serta pikiran. Hal ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah peradaban.

Padahal semua itu dikarenakan motif Haus akan Kekuasaan. Memang tidak sedikit kepala daerah yang pilihan rakyat merupakan pemimpin rakyat yang baik. Contohnya Beberapa Bupati yang dihadirkan sebagai narasumber dalam acara Kick Andy di Metro TV pada hari Jumat, 22 Januari 2010. Penulis merasa salut melihat kinerja mereka,. Namun jumlah pemimpin seperti itu menurut penulis sangat sulit untuk ditemui oleh karena jumlahnya yang tidak sebanding dengan pemimpin-pemimpin lain yang haus akan kekuasaan. Sehingga tidaklah sesuatu yang aneh apabila kelak setelah pemimpin itu telah habis masanya, maka ia akan masuk “HOTEL PRODEO: oleh karena kasus “KORUPSI”.

Melihat semua alasan diatas, tentunya masyarakat dunia akan mengatakan bahwa sungguh Indonesia merupakan negara yang kaya. Sehingga tidak juga salah Penulis mengangkat Judul “Siapa bilang Indonesia Negara Miskin”.

Padahal dibalik itu semua, jutaan rakyat Indonesia masih banyak yang busung lapar, orang-orang yang buta huruf oleh karena tidak berpendidikan, hingga orang orang yang mati oleh karena tidak ada perawatan medis untuk penyakit yang diderita.

Nb : Tulisan ini merupakan pendapat yang Penulis dapatkan dari berbagai media yang kemudian dituangkan dalam tulisan ini. Sehingga bagi teman-teman yang ingin mengkomentari, memberikan saran atau kritik, Penulis merasa sangat berterima kasih. Silahkan juga kunjungi blog di http://www.chandrasilaen.wordpress.com yang merupakan blog milik penulis. (Sory juga ya, apabila isinya yang terlalu panjang, heheheh…)

terima kasih, Tuhan Memberkati.


Aksi

Information

2 responses

15 02 2010
Yunus Sipahutar

indonesia emang kaya tapi dilihat dari pendapatan perkapita indonesia masuk dalam negara miskin…..
Bank Dunia menilai kaya atau miskinnya suatu negara tergantung dari pendapatan perkapitanya dan angka kemiskinan di suatu negara,….check…
http://www.forbes.com/lists/2008/6/b…GDPPerCap.html
memang dilihat dari segi “pemborosan ” indosesia terlihat sebagai negara yang jauh dari kata MISKIN.. tapi kenyataannya indonesia masih tertinggal dalam segala bidang….

Lebih parahnya lagi indonesia masih mengandalakan utang untuk menutupi kekurangan di dalam negeri….
lebih rincinya lagi indonesia masih terpuruk ataupun masih dicap sebagai negara miskin dari data BPS tahun 2010..

http://www.menkokesra.go.id/content/view/13654/39/
bandingkan dengan data ini.
http://economy.okezone.com/read/2009/08/18/20/249012/20/bps-keberatan-angka-kemiskinan-versi-bank-dunia

inilah mengapa kita selalu di cap sebagai negara miskin…..

itu aj dh gan ya ane mw kasi komen semoga bermanfaat…

15 02 2010
Yunus Sipahutar

indonesia emang kaya tapi dilihat dari pendapatan perkapita indonesia masuk dalam negara miskin…..
Bank Dunia menilai kaya atau miskinnya suatu negara tergantung dari pendapatan perkapitanya dan angka kemiskinan di suatu negara,….check…
http://www.forbes.com/lists/2008/6/b…GDPPerCap.html
memang dilihat dari segi “pemborosan ” indosesia terlihat sebagai negara yang jauh dari kata MISKIN.. tapi kenyataannya indonesia masih tertinggal dalam segala bidang….

Lebih parahnya lagi indonesia masih mengandalakan utang untuk menutupi kekurangan di dalam negeri….
lebih rincinya lagi indonesia masih terpuruk ataupun masih dicap sebagai negara miskin dari data BPS tahun 2010..

http://www.menkokesra.go.id/content/view/13654/39/
bandingkan dengan data ini.
http://economy.okezone.com/read/2009/08/18/20/249012/20/bps-keberatan-angka-kemiskinan-versi-bank-dunia

inilah mengapa kita selalu di cap sebagai negara miskin…..

itu aj dh gan ya ane mw kasi komen semoga bermanfaat kasi komen lagi ya gan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: