Adilkah apa yang dialami oleh Nenek Minah?

19 01 2010

Tentunya Bagi Pembaca ada yang mengetahui atau belum tahu siapa dan ada apa dengan Nenek Minah. Nenek Minah merupakan seorang wanita tua berumur 55 tahun yang divonis hakim akibat pencurian 3 buah kakao yang dilaporkan oleh pihak PT RSA (Rumpun Sari Antan). Dan Nenek Minah mengakui perbuatanya tersebut. Harga Kakao itu sendiri tidak lebih dari Rp 30.000,00-. Lalu dimana letak Pro dan Kontra yang timbul di masyarakat?

Pro dan Kontra terletak pada Hukuman Percobaan selama 1, 5 bulan yang lebih karena tekanan Publik akibat Media yang memperbandingkan Hukuman yang didapat Nenek Minah dengan Hukuman yang didapat oleh Pejabat Negara yang telah merugikan Ratusan atau bahkan Milyaran Rupiah. Penulis sendiri berpendapat Hukuman yang didapat oleh Nenek Minah sudah tepat, tanpa kita memperbandingkan dengan hukuman yang didapat Oleh Koruptor.

Pihak Perusahaan RSA (Rumpun Sari Antan) telah tepat dengan melaporkan kasus yang terjadi pada pihak Kepolisan. Mungkin Nenek Minah memang baru pertama kali itu melakukan hal tersebut. Namun Publik juga harus tahu, bahwa ada banyak Nenek Minah lain yang tidak ketahuan yang dengan sengaja melakukan pencurian terhadap Kakao milik PT RSA. Dan Pihak Perusahaan merasa sangat dirugikan dan untuk memberi pelajaran (Deteren Efect) bagi pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang telah dan akan melakukan Pencurian.

Pihak Kepolisian yang menerima Pelaporan tentunya bertanggungjawab untuk menindaklanjuti kasus ini, oleh karena Bukti telah lengkap dan semua unsur telah terpenuhi maka kasus tersebut dilimpahkan Kepolisan kepada Kejaksaan guna melakukan Penuntutan di Pengadilan.
Nenek Minah tidak memenuhi unsur sebagaimana diatur dalam pasal 44 hingga pasal 51 KUHP. Sehingga nenek minah dapat dimintai pertangungjawabnya sebagaimana perbuatan yang telah ia lakukan. Nenek minah tentunya tahu bahwa perbuatan tersebut bersalah, sebagaimana teori Kriminologi oleh Jeremy Bentham yang menyatakan bahwa manusia berbuat berdasarkan kehendak bebasnya karena ia mempunyai pilihan untuk berbuat baik/jahat. dan kejahatan adalah pilihan yang salah. dengan melihat apa yang ada, tentunya hakim wajib untuk menjatuhkan hukuman sesuai dengan perbuatan terdakwa (Punishment harus berdasarkan pleasure and pain principle).

Namun Vonis Hakim itulah yang menimbulkan pro dan kontra didalam masyarakat. Menurut Penulis hukuman pencobaan yang dijatuhkan hakim sudah tepat. dan saya mendukung penegakan Hukum yang dilakukan aparat penegak hukum. Apabila memang demikian adanya.

Namun apakah para pembaca tahu dengan betul bagaimana kronologi yang lengkap yang terjadi? setelah penulis melakukan riset melalui berbagai informasi kasus nenek minah ini didahului dengan sengketa tanah antara rakyat sekitar dengan pihak perkebunan. Penulis sepakat Nenek Minah memang bersalah, dan dia sudah meminta maaf dan mengembalikan semua buah kakao yang dia curi, tetapi pihak perkebunan tidak mau melakukan mediasi dan tetap saja melanjutkan kasus ini di pengadilan, padahal dia sudah ditahan selama 1,5 bulan sebelum kasusnya disidang. Jelas-jelas ini merupakan suatu tindakan intimidasi kepada rakyat sekitar, bagaimana tidak? mencuri 3 buah kakao yg hanya seharga Rp 30.000 apakah layak dibandingkan dengan tahanan 1,5 bulan yg jika kita konversikan ke denda mungkin bisa mencapai 2 Milyar. Jadi disini bukan mencari siapa yg benar dan salah, karena sudah jelas bahwa nenek Minah bersalah, tetapi dari kasus ini harus mencari keadilan dalam hukum, INGAT KEADILAN DALAM HUKUM. Jika kasus ini tidak diblow up oleh salah satu tv swasta nasional, mungkin saja Nenek Minah akan dikenakan hukuman-hukuman yg tidak jelas.

Semoga institusi penegak Hukum apat menjalankan wewenang yang dimiliki dengan tepat. Tidak ada lagi adagium yang mengatakan Bahwa Hukum tegas terhadap rakyat biasa namun lemah terhadap orang yang memiliki harta, harkatn dan Martabat. Semoga…..


Aksi

Information

2 responses

22 01 2010
Ona

len, gua suka tulisan ini🙂 emang dari kasus ini yang harus disoroti adalah masalah KEADILAN bukan masalah penegakan hukum normatif nya, karena secara normatif nggak ada yang salah..

eniwei kritiknya satu aja, penggunaan istilah mediasi rasanya kurang tepat kalau dimasukkan di tulisan ini karena dalam hukum pidana tidak dikenal mediasi🙂 inget sekarang kalau kita bilang mediasi akan mengacu sama ketentuan mengenai mediasi yang dulu dikeluarkan oleh MA .. jadi istilah ini artinya uda bukan berarti perdamaian gitu🙂 menurutku lebih tepat kalau pake istilah damai di luar pengadilan aja😛

23 01 2010
chandrasilaen

ok na, thanks buat sarannya ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: